Penyuluh Agama Menghalau Sedimen, Merawat Harmoni: Catatan dari Puncak Resik-Resik Kali Semarang di Klenteng Tay Kak Sie
Kars Semarang (Moderanesia.com) – Jumat, 13 Februari 2026, aroma dupa yang tipis dari Klenteng Tay Kak Sie berkelindan dengan kebersamaan dalam kerjabakti resik resik Kali. Di Jalan Inspeksi, ratusan orang tidak sedang mengantre upacara keagamaan, melainkan sedang berjibaku melawan musuh lama perkotaan: tumpukan sampah dan pendangkalan sungai.
Aksi ini merupakan pemungkas dari trilogi gerakan “Resik-Resik Kali” di wilayah Semarang Tengah. Lurah Kembangsari, Ledhia Esturiani, S.KM, MM, yang hadir langsung memantau pergerakan warga, menyebutkan bahwa titik ketiga ini bukan sekadar pembersihan fisik, melainkan simbol kuatnya koalisi sosial di wilayahnya.
“Luar biasa sekali. Hari ini Kelurahan Kembangsari bergerak bersama Koramil, Polsek, hingga tim dari Kemenag Kota Semarang. Ini adalah wajah sengkuyung yang sebenarnya,” ujar Ledhia dengan nada optimistis.
Strategi dari Meja Walikota
Gerakan kolosal ini tidak muncul secara organik begitu saja. Semua bermula dari disposisi Walikota Semarang yang menginstruksikan jajaran Koramil untuk mengawal sterilisasi Jalan Inspeksi Kali.
Tujuannya presisi: membebaskan jalur air dari sumbatan sampah, kotoran, dan sedimen menahun yang kerap memicu genangan saat hujan ekstrem melanda.
Melalui rapat koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcab), 15 kelurahan di Semarang Tengah sepakat membagi beban kerja ke dalam tiga fase strategis:
• Fase I (30 Januari): Menyisir Jembatan Thamrin hingga Wotgandul, dengan titik pusat di lahan parkir MG Setos.
• Fase II (6 Februari): Bergerak dari Wotgandul Dalam menuju Jembatan Ki Mangunsarkoro di area Gangpinggir.
• Fase III (13 Februari): Agenda terakhir di kawasan Klenteng Tay Kak Sie menuju Jembatan Agus Salim atau area Pasar Johar.
Melampaui Sekat Agama dan Birokrasi
Yang membuat aksi ini menonjol adalah hadirnya representasi lembaga keagamaan. Kemenag Kota Semarang menerjunkan tim lintas agama yang bahu-membahu dengan warga dari Kelurahan Purwodinatan, Brumbungan, Kauman, hingga duo Pendrikan (Kidul dan Lor).
Di atas aspal Jalan Inspeksi yang kini mulai bersih, tak ada lagi sekat antara aparat berbaju loreng, polisi, pejabat kelurahan, maupun tokoh lintas iman. Semuanya melebur dalam satu visi: memastikan sistem drainase kota berfungsi tanpa hambatan.
Ledhia Esturiani menekankan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari kedisiplinan koordinasi. “Harapannya sederhana namun vital: lingkungan bersih, tidak ada genangan, dan tidak ada lagi sampah yang dibuang ke kali,” tambahnya.
Bagi warga Semarang Tengah, hari Jumat ini bukan sekadar kerja bakti. Ia adalah pengingat bahwa merawat kota adalah tugas abadi yang membutuhkan napas panjang dan kolaborasi tanpa henti. Saat matahari mulai meninggi dan alat berat mulai menjauh, Jalan Inspeksi tak hanya meninggalkan kesan bersih, tapi juga jejak gotong royong yang kian mengakar kuat.

