Perdana Digelar, Retreat Penyuluh Agama Batang Jadi Momen Konsolidasi Hati dan Langkah
Kars Pekalongan (Moderanesia.com) – Pimpinan Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kabupaten Batang menggelar Retreat Penyuluh Agama 2025 di Puncak Tombo, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Kamis (28/08/2025). Kegiatan perdana di Jawa Tengah ini diikuti 195 peserta dan menjadi ruang perjumpaan untuk meneguhkan kembali semangat pengabdian penyuluh agama dalam bingkai moderasi beragama dan ekoteologi.
Ketua PD IPARI Batang, Al Mukaromah, menyebut bahwa retreat ini menjadi momentum memperkuat soliditas dan sinergi antarpenyuluh dalam menjalankan tugas di Kementerian Agama.
“Bahwa dulu, kami satu dalam barisan penyuluh agama, kini kami tersebar dalam beragam tugas dan amanah, namun tetap dalam satu nafas: mengabdi dalam rumah kita, Kementerian Agama,” ungkapnya.
Menurutnya, retreat ini juga menjadi bentuk konsolidasi hati dan langkah penyuluh agama dalam mendukung Astaprotas Menteri Agama.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Wahid Arbani, yang hadir memimpin apel retreat, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa retreat merupakan sarana reflective thinking untuk mencari ilham dan merenungkan kembali layanan tugas yang diemban penyuluh.
“Di sini kita belajar bersama meningkatkan wawasan, kemudian mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas layanan kepada umat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batang dalam pembinaannya menegaskan pentingnya inovasi dan pelayanan tanpa batas.
“Interaksi kepada siapapun jangan pilih-pilih. Masyarakat awam, setengah awam, atau bahkan tidak awam, semua harus dilayani dengan baik,” tegasnya.
Retreat diisi dengan beragam kegiatan bermakna, antara lain FGD tentang ekoteologi dan penanaman pohon, Apel Hijau, sarasehan bertajuk Kita-Kita (Aku, Kau, dan KUA) bersama Kakankemenag, Kasi Bimas, Kepegawaian, dan IPARI, serta ditutup dengan Muhasabah Cinta sebagai refleksi spiritual.
Kegiatan ini menjadi titik awal penguatan langkah bersama penyuluh agama dalam mewujudkan layanan yang lebih harmonis, inklusif, dan penuh cinta kepada masyarakat.