Belajar dari Kejajar, Penyuluh KUA Reban dan Bawang Perkuat Manajemen Kelompok Binaan
Wonosobo — Sebanyak 16 Penyuluh Agama dari KUA Reban dan KUA Bawang melaksanakan studi tiru ke KUA Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Maskur dan difokuskan pada penggalian pengalaman serta praktik baik dalam manajemen dan pengelolaan kelompok binaan penyuluh agama.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala KUA Kejajar, Munawir, yang menyampaikan ucapan selamat datang kepada rombongan. Ia berharap kunjungan tersebut dapat menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat sinergi antarpenyuluh agama.
“Selamat datang di KUA Kejajar. Selamat menikmati suasana dan alam Kejajar. Semoga kunjungan ini membawa manfaat dan dapat menjadi sarana berbagi pengalaman dalam pelaksanaan tugas kepenyuluhan,” ungkap Munawir.
Selanjutnya, Maskur menyampaikan maksud dan tujuan studi tiru. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas Penyuluh Agama, khususnya dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan kelompok sasaran binaan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Ketua Pokjaluh Kabupaten Wonosobo, Faqih Al Aziz, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Pokjaluh memiliki peran penting dalam mengawal para penyuluh agar memahami tugas dan fungsi kepenyuluhan. Penguatan kapasitas penyuluh, menurutnya, diperlukan agar program pembinaan masyarakat dapat dilaksanakan secara terencana, terukur, dan memberikan dampak nyata.
Materi berikutnya disampaikan oleh Wakhid Setiyawan yang mengupas proses dan langkah-langkah pembentukan kelompok sasaran penyuluhan. Ia menekankan pentingnya penyuluh melakukan identifikasi terhadap kondisi, potensi, kebutuhan, dan karakteristik masyarakat sebelum menetapkan kelompok binaan.
“Qodri binuqulihim,” tegas Wakhid, yang bermakna bahwa penyuluh perlu menyampaikan pembinaan sesuai dengan kapasitas, kondisi, dan kebutuhan kelompok sasaran.
Menurutnya, pembentukan kelompok binaan tidak sekadar menetapkan nama kelompok, tetapi harus diawali dengan proses identifikasi, pemetaan kebutuhan, penataan kelembagaan, penentuan program, pelaksanaan pembinaan, hingga evaluasi dan pengembangan kelompok.
Sementara itu, Rosyid Muhammadi memaparkan inovasi kepenyuluhan melalui pemanfaatan teknologi, khususnya penggunaan Learning Management System (LMS) dalam pembelajaran Al-Qur’an.
Pemanfaatan LMS dinilai dapat menjadi alternatif pengembangan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, terdokumentasi, dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Inovasi tersebut juga membuka peluang bagi penyuluh untuk memperluas jangkauan pembinaan serta meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran Al-Qur’an dengan kelompok binaan.
Kegiatan studi tiru berlangsung dalam suasana dialogis. Para peserta saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan kelompok binaan, strategi pembinaan, inovasi kepenyuluhan, serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung pelaksanaan tugas Penyuluh Agama.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan terbangun kolaborasi dan jejaring antarpenyuluh agama sekaligus muncul berbagai praktik baik yang dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Studi tiru ini menjadi salah satu bentuk komitmen bersama untuk memperkuat profesionalitas Penyuluh Agama Islam dalam menjalankan tugas pembinaan masyarakat serta menghadirkan layanan keagamaan yang semakin adaptif, inovatif, dan berdampak.


