BERITAKars Surakarta

Kemenag Sragen Bersama IPARI Gelar “Griya Nata” dan Dialog Kerukunan Umat di GKJ Jatiyoso Ngrombo Tangen

Berbagi yuks..

Kar Surakarta (Moderanesia.com) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen bersama Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sragen kembali melaksanakan program “Griya Nata”, berupa kegiatan bersih-bersih rumah ibadah yang dilanjutkan dengan Dialog Kerukunan Umat Beragama. Kegiatan tersebut dilaksanakan di GKJ Jatiyoso, Desa Ngrombo, Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan diawali dengan aksi bersih-bersih rumah ibadah yang melibatkan para penyuluh agama, jajaran Kementerian Agama, tokoh lintas agama, serta berbagai unsur masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata semangat gotong royong sekaligus upaya membangun kepedulian bersama terhadap kebersihan dan kenyamanan rumah ibadah.
Usai kegiatan bersih-bersih, acara dilanjutkan dengan Dialog Kerukunan Umat. Kegiatan ini diikuti oleh tokoh lintas agama, penyuluh agama sebagai penyelenggara, jajaran Kementerian Agama Kabupaten Sragen, Forkopimcam Tangen, Kepala KUA se-Eks Kawedanan Gesi, Kepala Desa Ngrombo dan Desa Sigit, Ketua Pokjawas, Ketua KKM MI/MTs/MA, serta sejumlah unsur terkait lainnya.
Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Kerukunan tidak lahir hanya dari satu kelompok atau satu lembaga, tetapi tumbuh melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Acara diawali dengan sambutan sekaligus laporan kegiatan oleh Ketua IPARI Kabupaten Sragen, Achmad Darussalam. Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa kegiatan Griya Nata merupakan salah satu bentuk kontribusi penyuluh agama selaku ASN dalam membangun kepedulian, kebersamaan, dan kerukunan di tengah masyarakat melalui kegiatan yang langsung menyentuh kehidupan umat.
Selanjutnya, Panatua GKJ Jatiyoso, Madyono, menyampaikan sambutan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia menyampaikan apresiasi atas dipilihnya GKJ Jatiyoso sebagai tempat pelaksanaan kegiatan Griya Nata serta berharap kegiatan tersebut dapat semakin mempererat hubungan dan kebersamaan antarumat beragama.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Camat Tangen atau yang mewakili. Dalam sambutannya, disampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program Griya Nata yang dinilai menjadi sarana positif dalam memperkuat kebersamaan lintas agama. Kolaborasi berbagai pihak melalui kegiatan sosial dan dialog dinilai penting untuk terus dirawat sebagai modal dalam menjaga kondusivitas dan keharmonisan masyarakat.
Memasuki sesi utama, Dialog Kerukunan Umat menghadirkan Ketua FKUB Kabupaten Sragen, Sriyanto, yang menyampaikan materi berjudul “Kolaborasi Lintas Agama dalam Merawat Kerukunan dan Harmoni Sosial.”
Sriyanto menekankan pentingnya membangun kerukunan melalui kolaborasi dan komunikasi lintas agama. Kerukunan tidak cukup hanya diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tetapi juga perlu dibangun melalui kerja bersama dalam berbagai bidang sosial kemasyarakatan.
Dalam konteks perkembangan media sosial, ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap hoaks dan informasi yang berpotensi memecah belah kerukunan. Masyarakat perlu memiliki sikap kritis sebelum menerima maupun menyebarkan sebuah informasi, terlebih informasi yang membawa isu agama dan berpotensi menimbulkan konflik.
Kerukunan akan semakin kuat ketika kita mampu menjaga komunikasi, saling menghargai perbedaan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar,” demikian salah satu pesan yang ditekankan dalam dialog.
“Kerukunan akan semakin kuat ketika umat beragama tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga mampu berkolaborasi dalam kebaikan dan kepentingan bersama,” demikian salah satu pesan yang disampaikan dalam dialog.
Materi kedua disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen, Fatchur Rochman, dengan tema “Griya Nata sebagai Ruang Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Rumah Ibadah.”
Melalui semangat “bersih rumah ibadah, bersih hati, dan kuat dalam kebersamaan”, Griya Nata diharapkan dapat terus berkembang
Fatchur Rochman menjelaskan bahwa program Griya Nata merupakan salah satu bentuk aksi nyata Kementerian Agama dalam menguatkan moderasi beragama di tengah masyarakat. Rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun komunikasi, kepedulian, dan hubungan sosial yang harmonis.
Ia menekankan pentingnya mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama, di antaranya tasamuh (toleransi), tawasuth (bersikap moderat), serta menghormati keyakinan masing-masing umat beragama.
Menurutnya, setiap umat memiliki keyakinan dan tata cara ibadah masing-masing yang harus dihormati. Perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan, tetapi menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat yang harus dikelola dengan sikap dewasa dan penuh penghormatan.
“Moderasi beragama bukan mencampuradukkan keyakinan, tetapi bagaimana kita mampu menjalankan ajaran agama dengan baik sekaligus menghormati orang lain yang memiliki keyakinan berbeda,” jelasnya.
Melalui Griya Nata, Kementerian Agama Kabupaten Sragen bersama IPARI terus mendorong hadirnya ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam semangat saling menghormati, bekerja sama, dan menjaga harmoni sosial.
Kegiatan di GKJ Jatiyoso menjadi salah satu ikhtiar untuk meneguhkan pesan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk belajar saling memahami dan bekerja bersama dalam menjaga kedamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *