BERITAKars Pekalongan

Bekali Penyuluh Hadapi Generasi Strawberry, Kemenag Tegal Gelar Bimbingan Teknis BRUS

Berbagi yuks..

Kars Pekalongan ( Moderanesia.com ) – Sebanyak 89 Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Rabu (26/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Al Ikhlas Kemenag Kabupaten Tegal ini digelar mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Faiqoh Ahmad selaku ketua PD IPARI Kab. Tegal dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan yang diikuti 89 penyuluh Agama ini sangatlah penting dan mendesak mengingat kegiatan bimbingan remaja usia sekolah (BRUS) betul-betul dibutuhkan oleh para remaja di Madrasah atau Sekolah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan membekali peserta dengan pemahaman modul, teknik komunikasi empatik, dan metode pengajaran partisipatif agar materi mudah dipahami oleh remaja.

Suasananya serius, tetapi tetap dibuat interaktif agar para penyuluh tidak hanya menerima materi, tetapi juga siap menerapkannya saat mendampingi para remaja.

H. Kokabbudin, selaku Kasi Bimas, menjadi salah satu pemateri dengan membahas fenomena “Generasi Strawberry”. Para peserta diajak memahami karakter generasi muda saat ini, termasuk berbagai kelebihan dan kelemahannya.

Menurutnya, generasi strawberry memiliki sejumlah potensi positif, seperti kreatif, adaptif, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki keberanian mengekspresikan diri. Namun, di sisi lain, mereka juga menghadapi tantangan seperti mudah merasa tertekan, kurang tahan menghadapi kegagalan, dan rentan terhadap tekanan sosial.

Materi tersebut menjadi bekal penting bagi para penyuluh agar lebih memahami dunia remaja dan mampu memilih pendekatan yang tepat dalam memberikan bimbingan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, H. Muhdzir, mengajak para peserta melihat kembali makna kebahagiaan sejati.

Ia menyampaikan bahwa kebahagiaan bukan sekadar persoalan banyaknya harta, tingginya popularitas, atau banyaknya kesenangan yang dinikmati.

“Kebahagiaan tumbuh ketika kita mampu mengelola emosi, menemukan makna dalam kehidupan, mensyukuri apa yang ada, menjaga hubungan yang baik dengan sesama, dan merasa dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita.”

Menurutnya, pada akhirnya bahagia bukan berarti memiliki segala sesuatu, melainkan mampu menikmati, mensyukuri, dan memaknai apa yang telah dimiliki.

Sesi berikutnya dipandu Fasilitator H. Salafudin Yusuf dengan membuat beberapa kelompok. Peserta diajak mendalami empat langkah penting dalam pendampingan remaja, yaitu:

  • Kelompok 1: Langkah 1 — Konsep Diri yang Sehat.
  • Kelompok 2: Langkah 2 — Membangun Jembatan Harapan.
  • Kelompok 3: Langkah 3 — Tantangan dan Problematika Remaja Masa Kini.
  • Kelompok 4: Langkah 4 — Konsep Diri Remaja dalam Islam.

Selanjutnya H. Maryono selaku fasilitator kedua memandu materi terampil mengelola diri.

Bimbingan teknis ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan di ruang pelatihan. Para penyuluh agama diharapkan mampu membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk diterapkan di lapangan, khususnya dalam membimbing remaja usia sekolah agar memiliki konsep diri yang sehat, mampu menghadapi tantangan, memiliki harapan, serta tumbuh menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *