Penyuluh Agama Kemenag Kota Magelang Bedah Makna “SAHABAT HAJI” di Pasar Raya Ramadan Radio Tidar
Kars Kedu (Moderanesia.com) – Suasana ceria di Pasar Raya Ramadan Radio Tidar mendadak syahdu saat lantunan ayat suci Al-Qur’an dan selawat bergema di tengah hiruk-pikuk pengunjung.
Hadir sebagai narasumber, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Magelang, Sri Marjanah Dwi Astuti, S. Ag, memberikan pencerahan rohani melalui program bertajuk “SAHABAT HAJI” (Santai dan Hangat Bahas Tuntas Haji), Selasa (24/2).
Dalam ceramah yang disiarkan secara langsung di gelombang 94,3 FM tersebut, narasumber menekankan bahwa ibadah haji bukan sekadar rukun Islam kelima, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang sudah dilakukan para Nabi terdahulu, bahkan jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Penyuluh Agama Islam yang akrab disapa Wiwik ini menjelaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar masalah kemampuan finansial, melainkan juga masalah kesiapan mental dan fisik sejak dini.
“Ibadah haji itu perjalanan cinta. Lewat forum SAHABAT HAJI ini, kita ingin masyarakat paham bahwa menyiapkan haji bisa dimulai dari hal kecil, seperti niat yang kuat dan pendaftaran sejak usia muda,” ujarnya.
Sri Marjanah juga menjelaskan bahwa setiap rukun dan syarat haji memiliki hikmah mendalam yang terbagi dalam dua aspek utama: pengakuan diri sebagai hamba dan ungkapan syukur.
“Ibadah haji adalah wahana untuk menampakkan kehinaan kita di hadapan Sang Pencipta. Saat mengenakan pakaian ihram, semua sekat duniawi dilepaskan. Tidak ada perhiasan, tidak ada jabatan. Kita semua sama-sama sederhana, memohon rahmat Allah,” ujarnya di hadapan pengunjung pasar dan pendengar di Radio.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa haji merupakan bentuk syukur paripurna karena melibatkan pengorbanan dua nikmat sekaligus, yaitu nikmat fisik (badan) dan nikmat harta.
Ia juga membedah aspek hukum (fiqih) agar masyarakat memahami ketentuan yang benar. Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain Hukum, Sejarah, Rukun hingga Wajib Haji.
Tema “SAHABAT HAJI” sengaja dipilih untuk menggambarkan bahwa Baitullah adalah tempat berkumpulnya umat Islam dari seantero dunia tanpa memandang suku, warna kulit, maupun status sosial.
“Di Makkah, orang Indonesia akan mengenal orang Arab, Turki akan mengenal India. Semua berkumpul atas satu nama, yaitu Islam. Inilah bukti kejayaan dan kekompakan pemeluknya,” tambah Wiwiek.
Melalui kegiatan ini, Kemenag berharap masyarakat tidak hanya melihat haji sebagai penggugur kewajiban semata, namun mampu meresapi hikmah persatuan dan transformasi diri menjadi pribadi yang lebih baik sekembalinya dari Tanah Suci.

