PELATIHAN DETEKSI DINI DAN RESOLUSI KONFILK BAGI EKS NAPI TERORISME BINAAN PENYULUH

Berbagi yuks..

Semarang ( Moderanesia.com ) РHarapan ingin menjadi duta perdamaian dan ikut andil membantu pemerintah dalam mendeteksi dini potensi konflik bernuansa keagamaan, para mantan napi terorisme yang bergabung dalam wadah Yayasan Persadani mengadakan Pelatihan Deteksi Dini dan Resolusi Konflik di Hotel Amanda Hills Bandungan Kabupatèn Semarang pada Sabtu dan Minggu (14-15/10) kemarin, kata Syarif Hidayatullah, penyuluh agama Islam selaku pembina Yayasan Persadani.

Kegiatan yang bersumber dari hibah Kemenag RI ini dibuka oleh Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Jateng, Imam Buchory yang didampingi Lasiyanto selaku Ketua Tim Kerja Kemitraan Umat, yang bertujuan selain untuk menjadikan para eks napiter sebagai agen perdamaian dan agen moderasi beragama, juga akan menjadi penghubung atau jembatan bagi masyarakat yang berkonflik diakibatkan isu keagamaan.

“Sesungguhnya kami harapkan dari kegiatan ini untuk perkuat komitmen kami menjadi duta perdamaian dan agen moderasi beragama juga mengasah ketrampilan ketika menjadi penghubung antar masyarakat yang berkonflik diakibatkan oleh isu keagamaan”, sebut Sri Puji Mulyosiswanto selaku Ketua Yayasan Persadani.

Dalam kesempatan yang sama, Imam Buchory ketika memberikan sambutannya menyebut bahwa eks napiter yang bernaung dalam Yayasan Persadani adalah mitra Kementerian Agama yang tugasnya sinkron yaitu menguatkan moderasi beragama serta ikut andil dalam menyemai perdamaian, deteksi dini dan menangani konfiik bernuansa agama nantinya.

“Kami berterima kasih dibantu oleh Yayasan Persadani dalam melaksanakan deteksi dini terhadap potensi konflik bernuansa agama, berarti ini juga sinkron dalam mempersempit ruang intoleransi dan kekerasan atas nama agama, sehingga ini namanya penguatan moderasi beragama”, tutur Imam.

Kegiatan yang dipandu selama dua hari oleh pelatih dari Walisongo Mediation Center UIN Walisongo yaitu Muhammad Sulthon dan Nor Hadi ini akan membimbing 20 eks napiter yang menjadi peserta dalam pelatihan ini nantinya akan mengenal resolusi konflik, baik dari pola, analisis, negosiasi dan mediasi konflik.

“Sebenarnya ini materi yang harus diselesaikan komplit selama enam hari, namun kami akan mencoba dalam dua hari ini semoga setidaknya ada gambaran mengenai resolusi konflik”, harap Sulthon.

Benar saja, kata Syarif. Ternyata dalam dua hari ini belum tuntas dan harapan dari ikhwan-ikhwan agar “tidak kesusu” dalam memberikan materi, sehingga perlu adanya kegiatan tahap berikutnya, sehingga dapat menjangkau materi negosiasi dan mediasi serta prakteknya.

“Kayaknya kita baru bisa menyerap 20 persen saja, perlu ada tahap berikutnya yang memang idealnya kita belajar 44 jam, sedangkan kita ini baru kurang dari 10 jam saja”, sebut Syarif saat menutup kegiatan.

Harapannya agar Kemenag RI dapat memberikan hibah yang lebih besar, sehingga temen-temen eks napiter dalam wadah Yayasan Persadani ini bisa menuntaskan materi ini dan dapat memiliki sertifikat sebagai mediator profesional, pungkas Syarif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *