Bentengi 100 Pramuka Penggalang, Ketua PD IPARI Banyumas Ajak Cegah Bullying
Kars Banyumas (Moderanesia.com) – Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kabupaten Banyumas, Lubab Habiburrohman, membentengi sekitar 300 Pramuka Penggalang dari perilaku perundungan (bullying). Pesan itu ia sampaikan dalam rangkaian Lomba Penggalang Tingkat II Kwartir Ranting (Kwarran) Kedungbanteng di Balai Desa Beji, Rabu (4/11/2026).
Para peserta datang dari sejumlah gugus depan di wilayah Kwarran Kedungbanteng. Mereka mengikuti sesi penguatan karakter di sela-sela lomba, dengan pencegahan bullying sebagai tema utama.
Dalam paparannya, Lubab menekankan bahwa bullying tidak boleh dianggap candaan. Menurutnya, ejekan, pengucilan, dan kekerasan fisik maupun verbal meninggalkan luka yang sering lebih lama sembuh daripada luka di badan.
“Pramuka itu mendidik anak-anak menjadi pribadi yang kuat, tetapi kuat bukan berarti boleh menyakiti. Anggota Pramuka harus menjadi pelindung bagi temannya, bukan pelaku, dan tidak boleh diam ketika ada teman yang dirundung,” ujarnya.
Lubab mengaitkan pesan itu dengan nilai-nilai Dasa Dharma Pramuka dan ajaran agama. Ia mengingatkan para penggalang pada Dasa Dharma, antara lain cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, serta sopan dan ksatria. Ia juga mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, yang melarang manusia saling mengolok-olok dan saling memanggil dengan julukan yang buruk.
Selain mengajak peserta menjauhi perundungan, Lubab mendorong mereka berani bersuara. Ia meminta penggalang segera melapor kepada pembina, guru, atau orang tua jika menyaksikan maupun mengalami tindakan bullying. Ia juga mengajak mereka merangkul teman yang menjadi korban agar tidak merasa sendirian.
Menurut Lubab, usia penggalang adalah masa pembentukan jati diri. Karena itu, lingkungan gugus depan yang aman, saling menghargai, dan penuh keteladanan sangat menentukan kepribadian mereka kelak. Ia berharap para pembina ikut menjaga suasana tersebut dalam kegiatan latihan sehari-hari.
Sesi penguatan karakter berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta antusias menjawab pertanyaan dan menyampaikan pengalaman mereka tentang pergaulan di sekolah dan lingkungan rumah. Di akhir sesi, mereka bersama-sama mengikrarkan komitmen untuk menolak segala bentuk bullying dan menjadi teman yang saling menjaga.
Lomba tingkat II Kwarran Kedungbanteng berlangsung selama tiga hari penuh di Lapangan Sepakbola Desa Beji. Kegiatan ini menjadi ajang pembinaan sekaligus seleksi bagi penggalang sebelum maju ke jenjang berikutnya. Panitia berharap lomba tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga membentuk generasi Pramuka yang berakhlak, peduli, dan bebas dari budaya perundungan.
(elbab)

